Tuesday, October 6, 2020

Hari Guru

Saya baru tahu kini ada hari guru dunia. Di sosmed bertebaran meme tentang pentingnya mengapresiasi peran seorang guru. Salah satu posting di sosmed sampai mengistilahkan peran guru itu esensial, tanpa guru maka profesi-profesi lain di dunia ini tidak akan ada.

Bicara masalah guru dan dunia pendidikan ini tidak akan ada habisnya. Sejujurnya dengan pandemi Covid-19 sekarang ini kita perlu bersyukur jadi banyak angin segar perubahan di dunia pendidikan Indonesia, walaupun kita belum tahu apakah perubahan-perubahan tersebut akan berhasil menembus tekanan-tekanan politik yang ada.

Kemudian saat ini kita melihat dengan pembelajaran jarak jauh, semua orang khususnya orangtua mesti berperan juga jadi guru. Pepatah Afrika lama dibutuhkan satu desa untuk membesarkan seorang anak, seperti membuktikan setiap elemen masyarakat harus berperan dalam membentuk pendidikan anak-anak Indonesia. Peran guru itu memang esensial.

Namun hasil survey singkat saya, sangat-sangat sedikit kalau tidak mau dibilang tidak ada, anak-anak jenjang SMP yang cita-citanya menjadi guru. Saya sendiri pun tidak bercita-cita menjadi guru. Karena jadi guru itu sulit sekali. Mirip-mirip artis idola atau tokoh politik yang harus senantiasa melakukan pencitraan/terlihat baik di depan orang-orang. :) Mengapa ya profesi guru ini kurang diminati? Jangan-jangan ada trauma dari anak-anak sewaktu mereka sekolah dulu. Atau mungkin melihat profesi guru tidak menjamin kehidupan yang baik.

Saya pun bertanya lebih lanjut kepada anak-anak, hasilnya menarik, menurut mereka sangat berat jadi guru itu, apalagi kalau harus mengajar anak-anak macam mereka. Sudut pandang yang reflektif, memang tidak semua orang itu bisa menjadi guru, mesti ada kesadaran serta kemauan yang kuat untuk mau terus belajar hal-hal baru, dan bersabar mendengarkan anak-anak serta orangtua.

Bisa jadi pada masa depan karena tidak ada yang mau jadi guru lagi, anak-anak di didik oleh AI (kecerdasan buatan) lalu ditentukan kompetensinya oleh algoritma, cocok kerja sebagai apa. Tidak akan ada lagi sekolah/universitas, karena semua bisa dilakukan secara online.

Tetapi saya kira pada satu titik semua orang membutuhkan seorang guru/mentor dalam hidupnya. Yang membantu kita menemukan hal-hal penting dalam hidup. Rasanya peran ini sangat sulit bisa digantikan oleh mesin. 

Saya ingat baru setelah Shihab putra saya lahir, saya melihat kebutuhan untuk memahami tumbuh kembang anak, pedagogi, konsep-konsep pendidikan, lalu menyadari betapa mahalnya biaya pendidikan saat ini. :) Dan akhirnya berjodoh dengan Semi Palar, yang kebetulan membutuhkan Kakak SMP. Berbekal pengalaman sebagai pembina pramuka, jadilah hingga kini saya menjadi bagian dari Semi Palar.

Di momen teacher day ini, saya ucapkan tetap semangat kepada sesama rekan pengajar! Tetap optimis selalu ada cara untuk bisa memantik semangat belajar anak-anak. Kepada sesama rekan orangtua terima kasih atas segala upaya dampingannya memastikan anak-anak tetap memiliki nilai-nilai keluarga yang luhur.

Setiap niat dan perbuatan baik kita sekecil apa pun yakinlah pasti berdampak pada kehidupan anak-anak, saat ini dan nanti.


Tuesday, March 31, 2020

Hantu Masa Lalu


"Bah, tolong beliin gas, tadi lagi masak air terus gasnya  habis."
"Sebentar Mbu, ini lagi beresin file dulu."

Hari ini menjelang Maghrib, Ambu minta tolong untuk dibelikan gas. Sudah dari sore hujan turun cukup deras. "Jangan lupa bawa payung." Sejak masa kerja di rumah, rasanya sudah lama sekali saya berjalan kaki ke luar. Mungkin sore ini saya dipaksa untuk sedikit berolahraga.

Sambil membuka payung dan menenteng gas 3 kg kosong, saya jalan menuju warung dekat rumah. Jaraknya dekat hanya 5 menit dari rumah. Banjir pikiran mulai merasuk, hari ini sudah 1500 lebih korban covid-19. Tapi bukan itu yang jadi pikiran, karena tiap hari terus-terusan dibombardir berita wabah covid-19, sangat sulit untuk tidak otomatis memikirkannya. Sesampainya di warung ternyata warungnya tutup. Saya coba mengetuk siapa tahu bapak/ibu yang punya warung masih ada di rumah. "Punten..." Beberapa kali mengetuk, ternyata tidak ada yang menyahut. Azan Maghrib berkumandang. Dan hujan makin deras.

Hari ini mengapa saya merasa takut? Mungkin bawaan lahir saya penakut? Saya coba menghilangkan pikiran tersebut.

Saya putuskan untuk mencari gas di warung lain. Karena hidup di kecamatan terpadat Kota Bandung, yang namanya warung itu selalu bisa kita temui di setiap belokan. Saya coba berjalan ke arah sungai, di sana kata Ambu ada dua warung yang juga jualan gas.

Takut apa? Saya coba mengingat-ngingat. Takut kena covid-19? Rasanya bukan. Walaupun memang ngeri kalau beneran sampai kena. Sejak awal tahun perasaan ini kerap muncul. Kelebatan ingatan terus datang dan pergi.

Sesampainya di warung tepi sungai, ternyata gasnya habis. Saya pergi ke seberang sungai, sama ternyata gasnya juga habis. Lumayan nih, olahraga angkat beban. Hehe. Saya putuskan berkeliling lagi mencari warung yang menjual gas.

Mungkin saya takut menerima kenyataan. Bahwa saya tidak mampu, tidak  becus jadi orang. Saya ingat, satu hari Ambu bilang, "Bah, makanan habis, gak apa-apa sih untuk kita mah, bisa puasa. Tapi untuk anak-anak gimana?" Lalu ingat kala bapak mengirimkan sms minta tolong untuk ditransfer uang untuk beli obat.

Tapi hal itu kan sepele. Orang lain, bahkan lebih susah. Sementara saya dan keluarga alhamdulillah masih sehat. Bahkan saat tersulit pun saya selalu bersyukur selalu ada yang menolong. Allah Swt. selalu baik kepadaku dan keluargaku.

Satu hal yang pasti saya sangat sering melakukan kebodohan. Akibatnya saya jadi banyak utang. Selain utang uang, juga utang janji. Entah bagaimana menebusnya. Ngeri rasanya membayangkan kelak saat meninggal, keluarga malah direpotkan oleh utang-utang saya tersebut.

Kenapa malah jadi banyak mengeluh? Utang saya kan gak seberapa, gak sebesar utang negara.

Setelah berkeliling, saya ternyata sudah kembali ke jalan tempat warung yang pertama, tanpa hasil. Hujan masih deras, payung tak mampu meladeni derasnya hujan. Saya akhirnya mencoba lagi datang ke warung tersebut. Alhamdulillah ternyata warungnya buka. Bapak yang punya warung tadi sepertinya lagi salat, jadi tutup dulu. Sambil memberikan uang untuk bayar gas, saya tersadar, bahwa pikiran-pikiran itu adalah hantu masa lalu. Pikiran-pikiran itu yang membuat saya takut sendiri.

Sambil basah kuyup, tangan kanan memegang payung, dan tangan kiri menenteng gas saya berjalan pulang.

Hantu masa lalu itu memang menakutkan, semakin dipikirkan semakin ia menjadi kenyataan. Ia  akan terus datang dan menghabisi harapan hari ini. Betul tidak ada yang tahu hari esok itu akan seperti apa. Betul juga banyak hal bodoh yang saya lakukan, yang membuat saya dan keluarga seperti sekarang. Tapi masa lalu tidak akan bisa kita ubah.

Semakin dipikir malah semakin tidak ketemu jawabannya. Ya sama lah dengan kasus wabah covid-19 sekarang. Kita ternyata seringkali tidak belajar dari masa lalu. Masa pandemik sudah pernah kita alami, tapi setiap masa pandemik itu muncul, kita selalu tidak siap.

Sejak banyak kabar simpang siur tentang diam di rumah, karantina wilayah, dsb. Malah membuat banyak orang pulang kampung. Karena memang sulit, tinggal di kota besar malah rugi, gak cukup penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari. Daripada kelaparan ya mending pulang kampung. Walaupun resikonya malah jadi pembawa virus covid-19 ke kampung halaman.

Manusia memang makhluk egois. Saya pun sama saja. Dari awal diduga kuat virus ini muncul karena manusia tidak bisa menjaga keseimbangan alam. Kelak jika wabah ini usai, kehidupan akan kembali normal, dan manusia kembali merusak alam. Lupa baru saja kemarin telah terjadi wabah pandemik. Hantu masa lalu, menjelma jadi hantu masa depan.


"The Sound Of Silence"

Hello, darkness, my old friend
I've come to talk with you again
Because a vision softly creeping
Left its seeds while I was sleeping
And the vision that was planted in my brain
Still remains
Within the sound of silence

In restless dreams I walked alone
Narrow streets of cobblestone
'Neath the halo of a streetlamp
I turned my collar to the cold and damp
When my eyes were stabbed by the flash of a neon light
That split the night
And touched the sound of silence

And in the naked light I saw
Ten thousand people, maybe more
People talking without speaking
People hearing without listening
People writing songs that voices never share
No one dared
Disturb the sound of silence

"Fools," said I, "You do not know
Silence like a cancer grows
Hear my words that I might teach you
Take my arms that I might reach you."
But my words like silent raindrops fell
And echoed in the wells of silence

And the people bowed and prayed
To the neon god they made
And the sign flashed out its warning
In the words that it was forming
And the sign said, "The words of the prophets
Are written on the subway walls
And tenement halls
And whispered in the sounds of silence."



Friday, August 9, 2019

Menempati Ruang-ruang Baru

Cosmic ‘Winter’ Wonderland
Bulan lalu saya mengikuti satu seri dokumenter BBC Earth yang berjudul The Planets. Dipandu oleh Prof. Brian Cox, seri tersebut menceritakan bagaimana kita sebagai manusia berhasil mengeksplorasi tata surya hingga batas-batas tertentu, dan menjelaskan bagaimana bumi itu unik, dan menjadi satu-satunya planet yang memiliki kehidupan. Dimulai dari pembentukan matahari sebagai pusat dari tata surya, lalu sisa-sisa dari pembentukan matahari tersebut berkumpul dan beredar/berevolusi dan saling bertumbukan hingga membentuk planet-planet.

Empat planet yang paling dekat dengan matahari adalah merkurius, venus, bumi, dan mars. Empat planet yang memiliki batuan. Lalu ada planet gas raksasa, jupiter dan saturnus, serta di paling luar terdapat planet es, uranus dan neptunus.

Menarik untuk dicermati, karena ketika matahari masih muda cahayanya itu masih redup. Sehingga memungkinkan planet seperti venus dan mars yang bertetanggaan dengan bumi diduga sempat memiliki air yang mengalir.

Namun, seiring dengan usia matahari yang terus bertambah, cahayanya pun semakin kuat, sehingga venus terpanggang akibat dari efek rumah kaca atmosfernya sendiri. Saking panasnya, air hujan menguap sebelum dapat menyentuh permukaan venus. Menjadikan venus sebagai planet terpanas di tata surya, walaupun jaraknya bukan yang terdekat dengan matahari.

Mars pun memiliki nasib yang mirip dengan venus, karena ukurannya yang lebih kecil dari bumi, atmosfer mars diduga tidak dapat bertahan dari serangan badai matahari. Hingga akhirnya mars jadi planet yang tidak bisa mendukung kehidupan seperti bumi.

Bumi adalah satu-satunya planet dalam tata surya yang memiliki keberuntungan jarak yang tepat serta memiliki medan magnet yang membuat atmosfer bumi bertahan dari serangan badai matahari. Keunikan ini berhasil menyediakan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk terciptanya air, dan pada akhirnya terciptalah kehidupan di bumi.

Belajar dari tata surya, memang begitulah alam bekerja, seperti acak, namun semua terjadi dengan sangat presisi, seperti sudah diatur demikian. Jika jarak bumi bergeser sedikit saja, atau ukuran dan komposisi pembentuk planetnya tidak pas, maka kehidupan di bumi tidak akan terjadi. Bahkan planet-planet yang jauh seperti jupiter, ternyata berperan untuk menjaga asteroid tetap berada di posisinya berkat tarikan gravitasi yang dimilikinya.

Kelak, matahari pun akan mencapai batasnya, diperkirakan usianya 7 miliar tahun lagi. Matahari akan semakin panas, dan saat itu terjadi kondisi bumi akan seperti planet venus. Tapi bukan tidak mungkin di masa itu manusia telah memiliki teknologi untuk hidup di luar angkasa dan menemukan planet-planet yang bisa dihuni.

Dibandingkan usia alam semesta, maka usia kita manusia hanyalah setitik saja. Namun betapa menakjubkannya, kita berhasil menguak sedikit misteri miliaran tahun pembentukan alam semesta dan tata surya. Kemudian layaknya alam semesta, kita pun tanpa sadar turut berputar mengelilingi pusat alam semesta.

Dalam lingkup kehidupan saya saat ini, Semi Palar itu analoginya adalah matahari, dan seperti halnya di tata surya, ada yang bergerak menjauh dari pusat, ada pula yang mendekat. Semi Palar adalah seperti pusat bagi saya, yang berkat gravitasinya menarik saya untuk beredar dan turut serta bertumbuh dan berkembang. Walau seperti kekacauan, namun semua saling mengisi, ruang-ruang yang kosong selalu berganti ada yang menempati.

Menempati ruang-ruang baru berdasarkan pengalaman saya pribadi selalu tidak mudah. Tahun ini, saya mengambil peran sebagai KJ, lalu tahun ini pula, saya mengambil peran sebagai orang tua yang baru menyekolahkan anaknya. Mengapa tidak mudah? Karena kekacauan selalu menyertai, hingga akhirnya terbentuk garis edar yang stabil. Berapa lama? Tidak ada yang dapat memastikan. Beberapa kekacauan bahkan ada yang terus menyertai dan tidak kunjung selesai.

Kesulitan-kesulitan kerap muncul di tempat-tempat yang tidak terduga. Menguras energi dan emosi, karena setiap hari kita harus tampil prima memfasilitasi teman-teman di kelas dan bekerja sama dengan orangtua. Sementara mungkin kita tengah berbenturan dengan rekan kerja, atau tengah sakit, lalu ada kejadian tidak terduga menyangkut orang-orang/keluarga yang kita sayangi. Seperti hujan asteroid yang diduga memusnahkan era dinosaurus di bumi dulu.

Namun, ruang-ruang baru itulah yang menjadikan kita bisa terus berkembang. Dibutuhkan keberanian dan usaha yang tidak sedikit, bahkan mungkin 'kenekatan', supaya bisa berjalan beriringan menuju pusat yang sama. Menemukan solusi-solusi baru, produk-produk inovatif, demi masa depan pendidikan anak-anak Indonesia.

The purpose of life is to obey the hidden command which ensures harmony among all and creates an ever better world. We are not created only to enjoy the world, we are created in order to evolve the cosmos. 
-Maria Montessori

Thursday, February 21, 2019

Mengapa Perjalanan Besar?

Desember 2014. Shihab baru berusia 6 bulan. Seorang teman di Pramuka menawarkan pekerjaan untuk jadi seorang guru. Sebelum Shihab lahir tidak pernah terpikirkan oleh saya untuk beralih profesi jadi seorang guru. Tapi ada satu hal yang bikin saya penasaran, kabarnya sekolah ini mirip dengan Pramuka, banyak berkegiatan di luar kelas, dan nilai pelajaran bukanlah jadi sasaran utama dari sekolah ini.

Jadilah saya berkunjung saat itu, ditemani Teh Santi, saya bertemu Kak Listi yang dengan ramah memperlihatkan sekolah unik tersebut, ya, sekolah yang bernama Rumah Belajar Semi Palar.

Orang-orang bilang, saya tidak peka, dan seringkali 'teu make rarasaan’, tapi insting saya saat itu bisa mencium, ini adalah satu sekolah yang secara konsep sangat menarik, dan saat itu sangat kebetulan, mereka sedang kekurangan kakak fasilitator. Panggilan kakak sangat akrab di telinga saya, karena itu panggilan di Pramuka. Walaupun para siswanya tidak dipanggil adik-adik tapi teman-teman.

Sekolah yang kesannya 'nyantai’, tapi saya tahu dibalik itu, ada banyak sekali perangkat yang tidak terlihat.

Saat berkunjung ke ruangan kelas 8, saya langsung tertarik dengan buku hasil kelompok Marlin. Sebuah buku hasil Perjalanan Besar napak tilas jejak Kerajaan Mataram. Sejenis karyawisata yang dikemas seperti pengembaraan/backpacker. Siapapun yang berani mencetuskan ide ini, juara idenya. Tingkat olahan serta kerumitan tinggi, yang mungkin hanya bisa dirasakan oleh kakak pendampingnya saja.

Dari membaca sekilas buku tersebut saya yakin, mungkin ini jawaban untuk mengatasi carut marut pendidikan di Indonesia. Tentunya ini hanyalah alternatif solusi, namun kegiatan tersebut nyata berhasil menciptakan kerja sama yang sangat baik antara sekolah, peserta didik, dan orang tua.

Mengapa Perjalanan Besar?

Setelah tiga kali mendampingi teman-teman kelas 8 melakukan Perjalanan Besar. Saya menyadari tidak ada satu kelompok yang serupa. Setiap kelompok memiliki kekhasan masing-masing. Setiap kelompok memiliki tantangan serta situasi yang unik. Tidak ada jaminan, sebuah Perjalanan Besar itu akan lancar dan sukses. Karenanya, kerja sama antar semua pihak jadi kunci.

Tahun ini, saya bersama Kak Imeh, diberi kesempatan untuk mendampingi kelompok Marmer melakukan Perjalanan Besar. Kekhawatiran selalu ada tentu saja. Saya terus bertanya, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk? Dapatkah kami mengatasinya?

Sama halnya seperti saat saya mendampingi adik-adik Pramuka, melakukan hiking, perkemahan, dan kegiatan alam terbuka lainnya. Bagaimana sebagai orang tua, dengan sedikit banyak keraguan menitipkan putra-putrinya kepada saya. Dan tentunya kemampuan setiap anak itu berbeda, kewajiban saya untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing anak. Memastikan selama kegiatan semua selamat.

Bagaimana sebagai seorang anak, mereka punya ekspektasi tinggi, bahwa kegiatan bakal seru dan menantang. Sementara kakak butuh yakin keamanan sepanjang kegiatan. :)

Harapannya, menjelang Perjalanan Besar semua persiapan sudah dilakukan, dan kegiatan dapat berjalan lancar.

Karena sebuah perjalanan adalah kesempatan. Bukan untuk mencapai garis akhir, tapi untuk menikmati dan menghargai setiap prosesnya.

“Travel isn’t always pretty. It isn’t always comfortable. Sometimes it hurts, it even breaks your heart. But that’s okay. The journey changes you; it should change you. It leaves marks on your memory, on your consciousness, on your heart, and on your body. You take something with you. Hopefully, you leave something good behind.”

– Anthony Bourdain

Monday, November 26, 2018

Sebuah Catatan

Mengapa begitu sulit untuk berubah jadi lebih baik?

Satu semester sudah habis. Apakah ada perubahan berarti bagi diriku? Apakah aku menjadi lebih baik? Apakah aku tengah bergerak menuju atau malah menjauhi cita-citaku? Apakah aku semakin percaya diri atau malah tidak yakin dengan kemampuanku? Apakah aku semakin dekat atau semakin jauh dengan teman-temanku?

Apakah aku terus mengeluh setiap hari? Apakah aku bercanda terus? Apakah aku sudah menghargai orang-orang di sekitarku? Apakah aku masih menunda-nunda pekerjaan? Apakah aku sudah bisa mengatur waktuku? Apakah aku malah menyia-nyiakan hidupku?

Mengapa begitu sulit untuk berubah jadi lebih baik?

Setiap hari saat bangun dari tidur. Apakah aku siap menghadapi hari? Apakah aku tahu apa yang ingin aku capai hari ini? Apakah aku berani menghadapi tantangan hari ini? Apakah aku takut? Apakah aku bisa hadir sepenuhnya hari ini?

Saat malam hari tiba. Aku kembali bertanya. Apakah aku sudah bisa membantu orang lain? Apakah aku sudah berbuat satu kebaikan? Apakah aku sudah melakukan yang terbaik? Apakah aku lebih banyak jujur atau berbohong? Jika aku tertidur dan bangun lagi, apakah aku akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama? Jika aku tertidur dan tidak bangun lagi, apakah bekal hidupku sudah cukup?

Mengapa begitu sulit untuk berubah jadi lebih baik?

Apakah aku sungguh-sungguh ingin berubah?

Saturday, September 1, 2018

Ruh Itu Tidak Mati

Jumat, 31 Agustus 2018, 21:00

Ada telepon via wa masuk, memberi kabar nenek saya dari pihak ibu meninggal dunia sekitar pukul setengah 8 malam. Nenek memang sudah sepuh, dan sakit-sakitan, namun tetap saja malam itu tidak ada tanda-tanda beliau sakit. Malam itu nenek minta dibelikan roti oleh sepupu saya. Namun saat kembali nenek sudah tiada.

Ke-riweuh-an langsung muncul. Gimana caranya ngasih tahu ibu? Karena malam itu juga bapak lagi tidak ada di rumah, karena kebetulan sedang ada di rumah ibu tiri saya.

"Bapak gak akan ke Metro, besok pagi langsung ke Cimahi pake angkot." Begitu kabar dari bapak. Jadi weh, tugas saya yang harus ngasih tahu ibu.

Setelah berdiskusi dengan adik-adik, sepakat dikasihtahunya besok pagi aja, karena mun malem langsung dikasihtahu, kemungkinan ibu kambuh sakitnya dan jadi double riweuhnya.

Teh Santi mah bilangnya, udah aja langsung malam ini ke Cimahi bareng ibu. Ibu pasti ingin lihat nenek untuk terakhir kali. Sementara buat saya pribadi sebetulnya kalau udah meninggal kan udah gak bisa diajak ngobrol yah? Jadi untuk apa lihat doang? Bukannya malah bikin tambah sedih yah?

Ke-riweuh-an lainnya, besok saya harus mendampingi anak-anak pramuka SMPN 13 hiking ke Dago Pakar. Dibatalkan aja gitu?

Ah sarekeun we lah...

Sabtu, 1 September 2018, 03:00

Alarm berbunyi. Teh Santi ngebangunin untuk siap-siap ke Metro. Semalem mimpi malah mimpi yg aneh-aneh, mungkin karena hari ini bangunnya kepagian.

Setelah beberes, dan salat subuh, saya berangkat pake gojek ke rumah ibu, lalu mengabari lewat grup line pramuka, saya akan datang telat untuk kegiatan hiking hari ini karena semalam nenek meninggal dunia.

Sampai di metro, ibu terbangun karena saya datang. Ibu lagi tiduran di kasur di ruang tengah. Saya duduk di sebelahnya, langsung bilang, "Bu, nenek ngantunkeun, tadi malam jam setengah 8. Sekarang semuanya, bapak dan adik-adik lagi otw Cimahi. Hayu Bu berangkat" Ibu kaget sebentar, terus langsung bangun. Saya tawarin untuk mandi dulu, gak usah katanya. Jadi ibu hanya ganti baju, dan pakai kerudung.

Bersama adik saya yang bungsu, berangkatlah kami ke Cimahi pakai grab.

Sampai di Cimahi, bapak sudah ada di sana. Nenek sudah dimandikan dan disalatkan. Ibu hanya lihat sebentar terus langsung keluar lagi dan mau pulang. Tapi oleh paman ditahan supaya mau tinggal sampai pemakaman beres.

07:00

Adik-adik saya datang. Saya lalu pamit, untuk berangkat ke 13 terus ke rumah. Rencana awalnya, saya ke 13 terus minta ada yg gantikan nemenin anak-anak hiking, terus ke rumah, jemput Teh Santi dan anak-anak, terus balik lagi ke Cimahi. Biar keburu lihat nenek dimakamkan.

Tapi di 13 ternyata gak ada yang lain yang bisa menggantikan saya, cuma ada saya sendiri. Anak-anak ber-18 orang sudah siap untuk berangkat. Ya sudah, berarti ganti rencana. Nemenin anak-anak hiking dulu, siang pulang ke rumah, sore ke Cimahi lagi.

10:00

Keluarga pada nanya, saya ada di mana. Saya bilang, "Lagi nemenin anak-anak pramuka di Dago Pakar." Sigana teh, di benak keluarga, kumaha si aa teh batur keur riweuh ieu kalahka ulin.

12:00

Anak-anak senang dan cape, jalan dari Terminal Dago - Curug Dago - PLTA Bengkok - Gua Jepang - Gua Belanda. Teriak-teriak dalam gua, dan ketemu banyak monyet di sekitar gua. Terus karena sayanya tiis, tanpa ekspresi, kejadian nenek meninggal, tidak berpengaruh.

14:30

Sampai di rumah. Akhirnya bisa makan, dari pagi belum makan, dan terus siap-siap ke Cimahi.

16:00

Stasiun Kiaracondong, cukup penuh. Biar murah, ke Cimahinya pakai kereta. Pas kereta datang, hujan turun.

17:30

Alhamdulillah akhirnya sampai di Cimahi lagi. Teh Santi bantu beberes bentar, sambil jagain dua bocah, terus selepas maghrib ikut acara tahlilan.

Minggu, 2 September 2018, 2:20

Masih di Cimahi, karena kecapean, semalam jadinya nginep di rumah nenek. Sekarang saya bangun, karena tengah malam Shihab ngompol. Jadi malah gak bisa tidur lagi.

Disebut meninggal, itu karena dua hal: jantung berhenti berdetak atau otak berhenti berfungsi. Tapi ruh itu tidak mati. Ruhnya tetap hidup. Walau mungkin bagi yang ateis mah, habis mati ya sudah, gak ada apa-apa lagi.

Seperti apa ya kehidupan setelah kematian?

Jawabannya: sama seperti hidup, pada akhirnya semua akan mencari titik kesetimbangan. Alam semesta selalu berlaku demikian. Seperti organ tubuh kita menyeimbangkan diri dengan homeostasis, lalu hukum konservasi/kekekalan energi, pada akhirnya kematian pun sama, semua seimbang dengan tubuh kita yang kembali ke tanah, dan ruh kita yang kembali pulang kepada Tuhan Sang Maha Pencipta Keseimbangan.

Ingatan saya tentang nenek hanya selewat-selewat. Saya ingat sewaktu kecil sering jalan-jalan dengan nenek di Cimahi, beliau seorang guru, dan sangat hobi bersih-bersih.

Sewaktu saya dewasa, hubungan dengan nenek seringkali dalam waktu seperti saat lebaran atau saat nenek ngasih tahu ibu saya datang ke Cimahi sendirian. Pernah satu kejadian, saya datang malam-malam ke Cimahi untuk jemput ibu. Terus karena sudah tengah malam, akhirnya nginep di sana. Subuh datang, nenek membangunkan saya, "Aa, ibu mana?" Saya langsung bangun, mencari, ternyata ibu sudah pergi lagi, ntah kemana sewaktu saya tidur.

Selamat jalan nenek, hampura ieu incu nu sok bedegong, hampura pun biang sok ngaririweuh nenek, mudah-mudahan amal ibadah nenek ditampi ku Allah SWT. Aamiin.

Wednesday, June 13, 2018

Butuh Waktu Berapa Lama Sampai Kamu Menyadarinya?

Apa itu kebenaran? Apakah itu hanya hasil kesepakatan bersama? Kalau begitu bumi ini bisa datar atau bulat, tergantung kita bersepakat dengan pendapat yang mana.

Disebut benar, apakah itu pendapat seorang tokoh? Karena dia berkata demikian, maka pasti benar. Kalau begitu caranya, kebenaran itu ada banyak, tergantung sudut pandang kita.

Apakah disebut benar kalau itu dapat dirasakan oleh panca indra kita? Tapi setiap orang boleh jadi merasakan hal yang berbeda.

Jadi bagaimana kita tahu kebenaran?

Kebenaran itu hanya ada satu. Kebenaran tidak tergantung panca indra atau pendapat kita. Ia memang begitu adanya. Berlaku seperti hukum alam. Berupa suatu fenomena yang terus berulang. Pasti terjadi seperti datangnya siang dan malam.

Sayangnya saya kerap mengabaikan kebenaran.

"Waktu terus berlalu, takkan pernah kembali", adalah salah satu kebenaran yang selalu saya lupakan.

Masih ada nanti, masih ada besok, itu bukanlah kebenaran, melainkan pembenaran.

Saat mencari kebenaran, panca indra dan pikiran saya seringkali menipu. Saya lebih sering mencari 'kebenaran' yang saya sukai saja. Saya takut menghadapi kebenaran.

Seperti saat masuk pertengahan bulan, dan melihat rekening kosong, kebenaran itu selalu sulit diterima. Terutama saat ada keluarga yang sedang membutuhkan.

Seperti saat pagi tiba, bagaimana tubuh ini memaksa untuk tetap tidur, padahal tidak ada apapun yang mengikat saya di tempat tidur.

Seperti saat melihat diri saya sendiri, mengapa takut menghadapi perubahan? Sementara perubahan itu senantiasa pasti terjadi.

Di nurani terdalam, kebenaran itu satu. Ia tidak disusupi nafsu, maupun pendapat kita. Lewat kebenaran itu kita dapat memimpin dan mengambil keputusan setiap harinya.

Cara yang paling mudah menemukan kebenaran adalah dengan melakukan kesalahan. 

Hari ini benar adalah hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Benar banyak hari sudah saya sia-siakan. Benar bahwa saya sering lupa bersyukur dengan semua yang saya miliki. Mestinya kan, setelah melakukan kesalahan ya sudah tidak mengulanginya lagi. 

Tapi memang begitulah adanya, berjalan di atas kebenaran selalu penuh tantangan. Semoga jalan ini pun benar jalannya. Itulah sebabnya kita selalu berdoa, Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. 

Selamat jalan bulan Ramadhan, semoga dapat berjumpa lagi tahun depan.